Empowerment, Stress, dan Konflik
Definisi Empowerment
Pemberdayaan dalam arti sempit, yang berkaitan dengan
sistem pengajaran antara lain dikemukakan oleh Merriam Webster dan Oxford English
Dictionary kata”empower” mengandung dua arti. Pengertian pertama
adalah to give power of authority dan pengertian kedua berarti to give
ability to or enable. Dalam
pengertian pertama diartikan sebagai memberi kekuasaan, mengalihkan
kekuasaan, atau mendelegasikan otoritas ke pihak lain. Sedangkan, dalam pengertian kedua,
diartikan sebagai upaya untuk memberikan kemampuan atau keberdayaan.
Empowerment adalah
wewenang untuk membuat keputusan dalam suatu area kegiatan operasi
tertentu tanpa harus memperoleh pengesahan orang lain (Luthans) dalam
Chasanah (2008). Sedangkan Straub dalam Chasanah (2008) mengatakan empowerment sebagai
pemberian otonomi, wewenang, kepercayaan, dan mendorong individu dalam
suatu organisasi untuk mengembangkan peraturan dalam rangka menyelesaikan
pekerjaan. Empowerment merupakan pemberian tanggung jawab dan
wewenang terhadap pekerja untuk mengambil keputusan menyangkut semua
pengembangan produk dan pengambilan keputusan. Empowerment juga
berarti saling berbagi informasi dan pengetahuan di antara karyawan yang
digunakan untuk memahami dan mendukung kinerja organisasi, pemberian
penghargaan terhadap kinerja organisasi dan pemberian otonomi dalam pengambilan
keputusan yang berpengaruh terhadap organisasi (Ford) dalam Chasanah (2008).
Empowerment merupakan sarana untuk membangun
kepercayaan antara karyawan dan manajemen. Ada dua karakteristik
dalam empowerment, pertama bahwa karyawan didorong untuk
menggunakan inisiatif mereka sendiri, dan kedua karyawan tidak hanya hanya
diberi wewenang saja tetapi juga diberi sumber daya untuk melakukan pengambilan
keputusan sesuai dengan kreativitas dan inovasi mereka. Secara tidak langsung
karyawan juga didorong untuk melakukan pembelajaran dari hasil keputusan dan
pelaksanaannya.
Kunci efektif Empowerment
Konsep
pemberdayaan (empowerment), menurut Friedmann muncul karena adanya dua
primise mayor, yaitu “kegagalan” dan “harapan”. Kegagalan yang dimaksud adalah
gagalnya model pembangunan ekonomi dalam menanggulangi masalah kemiskinan dan
lingkungan yang berkelanjutan, sedangkan harapan muncul karena adanya
alternatif-alternatif pembangunan yang memasukkan nilai-nilai demokrasi, persamaan
gender, peran antara generasi dan pertumbuhan ekonomi yang memadai. Dengan
dasar pandangan demikian, maka pemberdayaan masyarakat erat kaitannya dengan
peningkatan partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan pada
masyarakat, sehingga pemberdayaan masyarakat amat erat kaitannya dengan
pemantapan, pembudayaan dan pengamalan demokrasi.
Selanjutnya
Friedmann dalam Prijono dan Pranaka (1996) menyatakan bahwa kekuatan aspek
sosial ekonomi masyarakat menjadi akses terhadap dasar-dasar produksi tertentu
suatu rumah tangga yaitu informasi, pengetahuan dan ketrampilan, partisipasi
dalam organisasi dan sumber-sumber keuangan, ada korelasi yang positif, bila
ekonomi rumah tangga tersebut meningkatk aksesnya pada dasar-dasar produksi
maka akan meningkat pula tujuan yang dicapai peningkatan akses rumah tangga
terhadap dasar-dasar kekayaan produktif mereka.
Definisi Stress
Kata stres bermula darai kata latin yaitu “Stringere”
yang berarti ketegangan dan tekanan. Stres merupakan suatu yang tidak diharapkan
yang muncul karena tingginya suatu tuntutan lingkungan pada seseorang.
Keseimbangan antara kemampuan dan kekuatan terganggu. Bilamana stres telah
mengganggu fungsi seseorang, dinamakan distress. Distress kebanyakan dirasakan
orang jika situasi menekan dirasakan terus-menerus ( tugas yang berat atau
tugas yang dikakukan karena tugas dilakukan dengan situasi yang tidak kondusif
atau stres yang dilakukan dengan dasar rasa trauma).
Ada beberapa pengertian dari stres yaitu ;
1. Menurut Robbin,Stres adalah suatu kondisi dinamis dimana seorang individu dihadapkan pada peluang, tuntutan, atau sumber daya yang
terkait dengan apa yang dihasratkan oleh individu tersebut dan hasilnya dipandang tidak pasti dan penting.
2. Menurut Michael, Stres merupakan suatu respon adaptif, dimoderasioleh perbedaan individu yang merupakan konsekwensi dai setiaptindakan,
situasi, peristiwa dan yang menempatkan tuntutan khususterhadap seseorang
Penyebab orang mengalami stres
Stres yang dialami oleh seseorang biyasanya selalu
berkonotasi negatif karena akan mengalami suatu kontra produktif. Stres sendiri
dapat juga membantu proses mengingat yang dialami dalam jangka pendek dan tidak
terlalu kompleks. Stres bisa meningkatkan glokosa yang menuju ke otak, yang
memberikan energi lebih kepada neuron. Hal dapat mendorong untuk meningkatkan
pembentukan dan pengembalian ingatan. Disisi lain jika stres dilakukan secara
terus menerus, akan menyebabkan terhambatnya pengiriman glukosa ke otak yang
mengakibatkan rendahnya daya ingat manusia.
Adapun hal-hal yang menjadi sumber penyebab terjadinya
stress adalah sebagai berikut:
1)
Faktor Lingkungan
Ketidakpastian Ekonomi, misalnya orang merasa cemas terhadap
kelangsungan pekerjaan mereka. Ketidakpastian Politik, misalnya
adanya peperangan akibat perebutan kekuasaan. Perubahan Teknologi, misalnya
dengan adanya alat-alat eletronik dll, munculnya bom dimana-mana.
2)
Faktor Organisasional
Tuntutan Tugas, misalnya desain pekerjaan individual, kondisi
pekerjaan, dan tata letak fisik pekerjaan. Tuntutan Peran, misalnya
ada peran beban yang berlebihan dalam organisasi. Tuntutan Antarpersonal,
misalnya tidak adanya dukungan dari pihak tertentu atau terjain hungan yang
buruk.
3)
Faktor personal.
Persoalan Keluarga, misalnya kesulitan dalam mencari
nafkah dan retaknya hubungan keluarga. Persoalan Ekonomi, misalnya apa yang
dimilikinya tidak memenuhi apa yang didambakan. Berasal dari kepribadiannya
sendiri.
Dari berbagai masalah yang telah disebutkan tadi baik
dari masalah yang hadapi secara personal, organisasi, dan lingkungan. Hal
semacam itu yang sangat tidak diharapkan setiap orang dalam segala kondisi
apapun, terutama dalam pekerjaan. Organisasi pun sangat tidak menginginkan
setiap anggotanya mengalami masalah tersebut. Oleh karena itu peran sebagai
pemimpin atau manajer sangat berperan supaya bisa menyelesaikan masalah
tersebut agar tidak mengganggu organisasi.
Manajemen stres atau cara mengatasi stress
Ada dua pendekatan dalam manajemen stres, yaitu:
1.
Pendekatan Individual
a.
Penerapan manajemen waktu
Pengaturan waktu yang sangat tepat akan menjamin seseorang
tidak akan menjadi stres. Dikarenaka setiap orang pastinya memiliki rasa lelah
yang sangat besar dan perlukan pembagian waktu untuk istirahat dan
merelaksasikan tubuh dari kepadatan jadwal kerja. Pola pembagian waktu yang
baik antar waktu bekerja, beridah, dan waktu istirahat. Waktu bekerja antara
jm7 pagi sampai jm6 sore, setelah itu kemungkinan daya tingkat kejenuhan
seseorang akan meningkat disaat itulah diperlukan istirahat yang cukup untuk
mengembalikan rasa lelah.
b.
Penambahan waktu olah raga
Dalam tubuh manusia diperluakan olah raga yang dapat mengatur dan
merangsang syaraf motorik dan otot-otot sehingga membuat badan kita menjadi
bugar. Ketahanan fisik yang dimiliki pun akan semakin baik. Olah raga pun bisa
dilakukan seminggu 3 kali atau 1 minggu sekali. Bisa dengan joging di pagi atau
di sore hari, cukup melakukan olah raga yang ringan.
c.
Pelatihan relaksasi
Setelah melakukan kerja yang cukup padat dan banyak, tentunya membuat
tubuh menjadi lelah dan diperlukan relaksasi yang membantu menenangkan tubuh
yang tegang menjadi relaks. Merefres otak yang sudah di pakai untuk bekerja
setiap hari. Cara yang ampuh dalam relaksasi bisa dengan mendengarkan musik
atau menonton film sambil bersantai. Namun ada juga yang malakukan meditasi
atau yoga.
d.
Perluasan jaringan dukungan social
Berhubungan dengan banyak orang memang sanagt diperlukan. Selain dengan
mempermudah dalam pekerjaan, dengan memiliki banyak jaringan pertemanan juga
bisa kita manfaatkan sebagi tempat berbagi dalam memecahkan masalah yang di
alami. Terkadang setiap orang hal seperti ini sangat diperlukan sekali. Karena
itu manusia adalah makhluk sosial yang saling butuh membutuhkan.
2.
Pendekatan Organisasional
a.
Menciptakan iklim organisasional yang mendukung.
Banyak organisasi besar saat ini cenderung memformulasi
struktur birokratik yang tinggi yang menyertakan infleksibel. Ini dapat membawa
stres kerja yang sungguh-sungguh. Strategi pengaturan mungkin membuat struktur
lebih desentralisasi dan organik dengan membuat keputusan partisipatif dan
aliran keputusan ke atas. Perubahan struktur dan proses struktural mungkin akan
menciptakan iklim yang lebih mendukun bagi pekerja, memberikan mereka lebih
banyak kontrol terhadap pekerjaan mereka, dan mungkin akan mencegah atau
mengurangi stres kerja mereka.
b.
Adanya penyeleksian personel dan penempatan kerja yang lebih baik.
Pada dasarnya kemampuan ilmun atau skil yang dimiliki oleh
seyiap orang mungkin akan berbede satu dengan yang lainnya. Penempatan kerja
yang sesuai dengan keahlian sangat menunjang sekali terselesaikannya suatu
pekerjaan. Penyesuaiaan penempatan yang baik dan penseleksian itu yang sangat
diperluakan suatu perusahaan atau organisasi agar setiap tujuan dapat tercapai
dengan baik. Seperti halnya seorang petani yang tidak tahu bagaimana seorang
nelayan yang mencari ikan, tentunya akan kesulitan.
c.
Mengurangi konflik dan mengklarifikasi peran organisasional.
Konflik dalam sebuah organisasi mungkin adalah hal yang wajar
dan mungkin sering juga terjadi. Konflik apapun yang terjedi tentunya akan
menimbulkan ketidak jelasan peran suatu organisasional tersebut.
Mengidentifikasi konflik penyebab stres itu sangat diperlukan guna mengurangi
atau mencegah stres itu sendiri. Setiap bagian yang dikerjakan membutuhkan
kejelasan atas setiap konflik sehingga ambigious itu tidak akan terjadi. Peran
organisasi itu yang bisa mengklarifikasikan suatu konflik yang terjadi sehingga
terjadilah suatu kejelasan dan bisa menegosiasikan konflik.
d.
Penetapan tujuan yang realistis.
Setiap organisasi pastinya memiliki suatu tujuan yang pasti.
Baik bersifat profit maupun non profit. Namun tujuan organisasi itu harus juga
bersifat real sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh organisasi tersebut.
Kemampuan suatu organisasi dapat dilihat dari skli yang dimiliki oleh setiap
orang anggotanya. Dengan tujuan yang jelas dan pasti tentunya juga sesuai
dengan kemampuan anggotanya maka segala tujuan pasti akan tercapai pula. Namun
sebaliknya jika organisasi tidak bersikap realistis dan selalu menekan
anggotanya tanpa adanya kordinasi yang jelas stres itu akan timbul.
e.
Pendesainan ulang pekerjaan.
Stres yang terjadi ketika bekerja itu kemungkina terjadi
karena faktor kerjaan yang sangat berat dan menumpuk. Cara menyikapi dan
mengatur program kerja yang baik adalah membuat teknik cara pengerjaannya.
Terkadang setiap orang mengerjakan pekerjaan yang sulit terlebih dahulu dari
pada yang mudah. Seseorang akan terasa malas dan enggan untuk mengerjakan
pekerjaannya ketika melihat tugas yang sudah menumpuk maka akan timbul stres.
Strategi yang dilakukan adalah melakukan penyusunan pekerjaan yang muadah
terlebih dahulu atau pekerjaan yang dapat dikerjakan terlebih dahulu. Sedikit
demi sedikit pekerjaan yang menumpuk pun akan terselesaikan. Dengan kata lain
stres pun bisa dihindari dan bisa dikurangi.
f.
Perbaikan dalam komunikasi organisasi.
Komunikasi itu sangatlah penting sekali dalam berorganisasi.
Komunikasi dapat mempermudah kerja seseorang terutama dalam team work. Sesama
anggota yang tergabung dalam satu kelompok selalu berkordinasi dan membicarakan
program yang akan dilakukan. Komunikasinya pun harus baik dan benar. Perbedaan
cara kordinasi dan instruksi ke atasan mau pun bawahan. Sering sekali terjadi
kesalahan dan tidak mampu menempatkan posisi dan jabatan sehingga terjadi
kesalahan dalam mengkomunikasikan.
g.
Membuat bimbingan konseling.
Bimbingan konseling ini bisa dirasakan cukup dalam mengatasi
stres. Konseling yang dilakukan kepada psikolog yang lebih kompeten dalam
masalah kejiwaan seseorang. Psikologis seseorang terganggu sekali ketika stres
itu menimpa. Rasa yang tidak tahan dan ingin keluar dari tekanan-tekanan yang
dirasakan tentunya akan menambah rasa stres yang dihadapinya. Konseling dengan
psikolog sedikitnya mungking bisa membantu keluar dari tekanan stres.
Sumber :
Michael, 2006, Perilaku dan
Manajemen Organisasi, Jakarta: ERLANGGA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar