Cinta dan Perkawinan
Pengertian Cinta
Pengertian
cinta itu sendiri sulit dibedakan batasan ataupun
pengertiannya, karena cinta merupakan salah satu bentuk emosi dan perasaan yang
dimiliki individu. Dan sifatnyapun subyektif sehingga setiap individu akan
mempunyai makna yang berbeda tergantung pada penghayatan serta pengalamannya.
Jenis-jenis Cinta
1. Cinta karena nafsu
Yaitu cinta yang mengakibatkan
hubungan antar dua orang tidak terkontrol lagi, emosi sangat menguasai akal
sehat seseorang sehingga perilaku seolah terjadi secara spontan untuk menjawab
rangsangan emosi yang berlebihan
2. Cinta pragmatis
yaitu cinta terjadi keseimbangan
antara dua orang, ada rasa suka dan duka, serta adanya timbal balik.
3. Cinta altruistik
biasanya terjadi pada seorang ibu
kepada anaknya, cinta ini disertai kasih sayang yang tidak ada batasnya.
Cinta itu berada pada ranah
emosional dan rasional. Cinta emosional ini datang dan pergi tanpa
diprediksi,misalkan: aku mencintaimu pada pandangan pertama, meski aku tak
bahagia bersamanya aku tetap mencintainya dll.
Ciri-ciri cinta
emosional
·
Adanya perasaan yang sangat kuat, normalnya diarahkan
pada lawan jenis, dimana yang ada pada pikiran serta hati adalah bayangan
kekasihnya
·
Adanya egoisme, biasanya ada harapan-harapan bahwa
kekasihnya adalah ideal yang ada dipikirannya dan merasa kecewa kalau
kekasihnya berbeda dengan apa yang ia harapkan
·
Cinta emosional mengandung unsur erotisme,yang biasanya
ingin mengungkapkan rasa cintanya dengan berpegangan tangan, berpelukan dll.
Sedangkan cinta rasional tidak didominasi oleh perasaan yang kuat tetapi lebih
pada akal pikiran. Cinta rasional ini biasanya tidak peduli apakah perasaannya
kepada seseorang yang dikuasai ini dibalas atau tidak, karena ciri utama dari
cinta ini adalah memberi tanpa pamrih dan tanpa syarat.
Reaksi Psikologis Dan
Fisiologis Pada Saat Muncul Cinta
Ketika orang lagi kasmaran, maka
dalam tubuhnya akan memproduksi hormon Phenthylamine ( PEA), efeknya adalah
terjadi peningkatan suhu tubuh, gula dan tekanan darah, denyut jantung akan
lebih cepat dan berkeringat, orang tersebut juga menjadi penasaran, salah
tingkah, bergairah (bersemangat), dan gembira.
Tanda- tanda Cinta
Cinta merupakan hal yang sangat
subyektif, satu orang dengan orang lainnya akan memaknakan secara berbeda.
Namun ada tanda-tanda yang menunjukkan adanya perasaan cinta:
1. ada unsur keterkaitan dan
kekaguman
biasanya cinta didahului oleh rasa
ketertarikan dan kekaguman, baik itu karena penampilan fisik, sifat, kemampuan
atau materi. Hal mana yang menjadikan seseorang itu tertarik tiap orang itu
berbeda-bada.
2. teringat terus dalam
ingatan
perasaan cinta membuat bayangan
tentang orang yang dicintainya selalu ada dalam ingatan.
3. adanya pengorbanan
perasaan cinta menimbulkan perasaan
ingin berbuat apa saja yang dapat membahagiakan dan menyenangkan orang yang
dicintai
4. adanya ketertarikan
seksual biasanya muncul rasa ingin selalu bertemu serta keinginan untuk
bersentuhan secara fisik
Arti Cinta Pada
Pandangan Pertama
Cinta pada pandangan
pertama ini baru pada tahap persona pada ketertarikan fisik
saja. Cinta ini digolongkan dalam passionate love yang ditandai oleh rasa rindu
yang hebat untuk bertemu. Ketertarikan pada pandangan pertama ini bisa berubah
dan berkembang menjadi cinta, tapi harus diikuti oleh proses selanjutnya yaitu
perkenalan dan penjajakan.
Beda Cinta Dan
Sayang Pengertian Cinta
Biasanya masyarakat membedakan cinta
ini lebih pada lawan jenis (pacar atau suami), sementara sayang itu
berlaku secara umum (orang tua, saudara)
Pengertian Perkawinan
Perkawinan adalah ikatan
sosial atau ikatan perjanjian hukum antar
pribadi yang membentuk hubungan kekerabatan dan
yang merupakan suatu pranata dalam budaya setempat
yang meresmikan hubungan antar pribadi - yang biasanya intim dan
seksual.Perkawinan umumnya dimulai dan diresmikan dengan upacara pernikahan.
Umumnya perkawinan dijalani dengan maksud untuk membentuk keluarga.
Tergantung budaya setempat
bentuk perkawinan bisa berbeda-beda dan tujuannya bisa berbeda-beda juga. Tapi
umumnya perkawinan itu ekslusif dan mengenal konsep perselingkuhan sebagai
pelanggaran terhadap perkawinan. Perkawinan umumnya dijalani dengan maksud
untuk membentuk keluarga. Umumnya perkawinan harus
diresmikan dengan pernikahan.
Memilih Pasangan
1.
Seiman
Keyakinan agama sy kira kembali kepada diri
masing-masing. Apabila memang menjadikannya sesuatu hal mendasar and tanpa
tawar-menawar lg, silahkan jadikanlah poin/pertimbangan utama.
2. Tempat dan Waktu Tepat
In
the right place at the right time! Urusan
mencari calon pasangan hidup bukanlah hal serampangan, "no care"
ketemu dimana, nyari dimana, dsb. Sebagai contoh, umumnya anak muda jaman
sekarang suka cara instan menggunakan media sosial, patokan simplenya: asal
cantik/ganteng, kaya, hobi sama langsung oke.
Begitupun "wherever" mau di pub,
diskotik, hotel/motel "ehe-ehe" peduli amat! Parahnya lg, "Ah,
tenang aja sob gue kagak pake perasaan ama die, happy fun doang sumpeh!"
Hati-hati, "Witing tresno jalaran soko kulino atawa cai karacak ninggang
batu laun-laun legok." Artinya, batu tiap hari ditimpa air setitik lambat
laun hancur. Hati dari ora suka jadi... Endingnya, klu serampangan begini mudah
ditebak angka perceraian pasangan muda semakin tinggi.
3. Apakah Calon Pasangan Hidupnya Sudah Teratur (Disiplin)?
Carilah calon istri didik dr keluarga hidup
teratur "disiplin." Alasannya, sebagian besar peranan didikan orang
tua sangat berpengaruh, benar-benar menentukan: semakin keras "tegas"
mendidik anak semakin baik. Contoh sederhana, aturan orang tuanya mengarahkan
anaknya untuk selalu padat menjalani aktifitas
positip.
Seperti, sehabis pulang sekolah anak diharuskan
tidur siang sebentar, lalu belajar mengulangi kembali apa-apa yg diajarkan
disekolah (les maupun belajar sendiri dirumah atau mengaji), minimal 7 jam
setiap hari. Artinya, bila ditambahkan jadwal belajar disekolah berarti anak
tersebut setiap hari dituntut belajar 10 - 13 jam sehari.
Kapan waktu bermainnya? Waktu bermain hanya
disisakan lewat jam istirahat sekolah or waktu istirahat mengaji di madrasah.
Klu dihitung jumlah keseluruhan aktifitas positip sehari-hari maka selesai
aktifitas antara jam 9 - 10 malam, yaitu pas waktunya jam tidur. Bisa jadi karakter seperti ini di cap sebagai anak kurang gaul.
4. Perhatikan Lingkungan Pergaulan Sekitar
Lingkungan pergaulan dimana ia tinggal/dibesarkan.
Maksudnya? Bukan berarti jika ia dibesarkan di lingkungan pergaulan kumuh gak
baik akhlaknya, tapi yg jelas kesehatannya memang kurang kondusif. Lingkungan
kumuh kota hampir mirip lingkungan kampung desa, cuma bedanya lingkungan
perdesaan jauh lebih kondusif pergaulannya dibandingkan lingkungan kumuh kota.
So, carilah informasi sebanyak mungkin siapa
temannya, sahabatnya, maupun sanak saudaranya and dekati mrk. Patokannya
sederhana, apabila sahabat mrk kelakuannya agak "nyeleneh" alias
tidak baik akhlaknya, artinya karakter pasangan memang
seperti itu
5. Cara Ia Bersikap, Berbicara, Berdandan
Cara ia berbicara, berdandan (berhias), maupun
sikap merupakan salah satu unsur penting penilaian karakter dasar pasangan.
Untuk membuktikannya hadapkan situasi dimana ia harus berbicara langsung dengan
orang tua, sahabat, teman + saudaranya.
Dengan begitu biasanya pembicaraan diluar kontrol
"ceplas-ceplos" seringkali terjadi: suka membentak, bicara kasar,
bahasa-bahasa "nyeleneh" kurang sopan layaknya wanita murahan, dsb.
Begitupun cara berdandan, semakin seronok semakin tipis kemungkinan baik atau
gadisnya. Gimana dgn sikap? Gak hanya agamis. Secara penentuan karakter wanita sikap pemalu cenderung berkarakter baik.
6. Belum Pernah Pacaran
Lebih aman lagi carilah calon pasangan belum
pernah pacaran sama sekali. Loh,emang ada gitu jaman serba canggih begini? Eh, jangan salah, gaul dong ke
kampung-kampung noh!...hhe. Ada kok perempuan yang ndak pacaran, serius, coba
baca poin ketiga: dididik dr keluarga penuh kedisiplinan pertanda anak
perempuannya ndak mempunyai waktu untuk berbuat "aneh-aneh" pacaran.
7. Minta Masukkan Orang Tua
Secara psikologis, wanita mintalah saran melalui
Ibu: terasa lebih nyaman, bebas mengutarakan isi hati. Sebaliknya, lelaki
mintalah saran lewat Bapak. Ingat, saran mereka terbukti sangat ampuh, tok-cer
bin jitu loh! Pasalnya, orang tua memiliki jam terbang tinggi/pengalaman,
pemahaman hidup, dsb. patut dipertimbangkan! So, turutilah anjurannya. Jangan
lupa minta doanya juga.
8. Perbaiki Diri dan Berdoalah
Perbaiki diri plus berdoa adalah langkah paling
aman, proses menenangkan hati selanjutnya. Pertama, jika merasa mau mendapatkan
pasangan sesuai, cocok di hati maka berkacalah pada diri sendiri, "Apakah
diri sy sudah sesuai dgn kriteria idaman pasangan nanti?" Ingat bahwa pasangan kalian merupakan cermin diri. Kedua, percayalah
jika kualitas diri baik maka jodoh kalian pun mempunyai kualitas imbangan sama.
Hubungan Dalam Perkawinan
Simak dulu pendapat Dawn J. Lipthrott, LCSW, seorang psikoterapis dan juga marriage and relationship educator and coach, dia mengatakan bahwa ada lima tahap perkembangan
dalam kehidupan perkawinan. Hubungan dalam pernikahan bisa berkembang dalam
tahapan yang bisa diduga sebelumnya. Namun perubahan dari satu tahap ke tahap
berikut memang tidak terjadi secara mencolok dan tak memiliki patokan batas
waktu yang pasti. Bisa jadi antara pasangan suami-istri, yang satu dengan
yang lain, memiliki waktu berbeda saat menghadapi dan melalui tahapannya. Namun
anda dan pasangan dapat saling merasakannya.
Tahap pertama : Romantic Love. Saat ini adalah saat Anda dan pasangan merasakan
gelora cinta yang menggebu-gebu. Ini terjadi di saat bulan madu pernikahan.
Anda dan pasangan pada tahap ini selalu melakukan kegiatan bersama-sama dalam
situasi romantis dan penuh cinta.
Tahap kedua : Dissapointment or Distress. Masih menurut Dawn, di tahap ini pasangan suami
istri kerap saling menyalahkan, memiliki rasa marah dan kecewa pada pasangan,
berusaha menang atau lebih benar dari pasangannya. Terkadang salah satu dari
pasangan yang mengalami hal ini berusaha untuk mengalihkan perasaan stres yang
memuncak dengan menjalin hubungan dengan orang lain, mencurahkan perhatian ke
pekerjaan, anak atau hal lain sepanjang sesuai dengan minat dan kebutuhan
masing-masing. Menurut Dawn tahapan ini bisa membawa pasangan suami-istri ke
situasi yang tak tertahankan lagi terhadap hubungan dengan pasangannya.
Banyak pasangan di tahap ini memilih berpisah dengan pasangannya
Tahap ketiga : Knowledge and Awareness. Dawn
mengungkapkan bahwa pasangan suami istri yang sampai pada tahap ini akan lebih
memahami bagaimana posisi dan diri pasangannya. Pasangan ini juga sibuk
menggali informasi tentang bagaimana kebahagiaan pernikahan itu terjadi.
Menurut Dawn juga, pasangan yang sampai di tahap ini biasanya senang untuk meminta
kiat-kiat kebahagiaan rumah tangga kepada pasangan lain yang lebih tua atau
mengikuti seminar-seminar dan konsultasi perkawinan.
Tahap keempat: Transformation. Suami istri di tahap ini akan mencoba tingkah
laku yang berkenan di hati pasangannya. Anda akan membuktikan untuk
menjadi pasangan yang tepat bagi pasangan Anda. Dalam tahap ini sudah
berkembang sebuah pemahaman yang menyeluruh antara Anda dan pasangan dalam
mensikapi perbedaan yang terjadi. Saat itu, Anda dan pasangan akan saling
menunjukkan penghargaan, empati dan ketulusan untuk mengembangkan kehidupan
perkawinan yang nyaman dan tentram.
Tahap kelima: Real Love. “Anda berdua akan kembali dipenuhi dengan
keceriaan, kemesraan, keintiman, kebahagiaan, dan kebersamaan dengan pasangan,”
ujar Dawn. Psikoterapis ini menjelaskan pula bahwa waktu yang dimiliki
oleh pasangan suami istri seolah digunakan untuk saling memberikan perhatian
satu sama lain. Suami dan istri semakin menghayati cinta kasih pasangannya
sebagai realitas yang menetap. “Real love sangatlah mungkin untuk Anda dan
pasangan jika Anda berdua memiliki keinginan untuk mewujudkannya. Real love
tidak bisa terjadi dengan sendirinya tanpa adanya usaha Anda berdua,” ingat
Dawn.
Lebih lanjut Dawn menyarankan pula, “Jangan hancurkan
hubungan pernikahan Anda dan pasangan hanya karena merasa tak sesuai atau sulit
memahami pasangan. Anda hanya perlu sabar menjalani dan mengulang tahap
perkembangan dalam pernikahan ini. Jadikanlah kelanggengan pernikahan Anda
berdua sebagai suatu hadiah berharga bagi diri sendiri, pasangan, dan juga anak.
Penyesuaian
dan pertumbuhan dalam perkawinan
Perkawinan tidak berarti
mengikat pasangan sepenuhnya. Dua individu ini harus dapat mengembangkan diri
untuk kemajuan bersama. Keberhasilan dalam perkawinan tidak diukur dari
ketergantungan pasangan. Perkawinan merupakan salah satu tahapan dalam hidup
yang pasti diwarnai oleh perubahan. Dan perubahan yang terjadi dalam sebuah
perkawinan, sering tak sederhana. Perubahan yang terjadi dalam perkawinan
banyak terkait dengan terbentuknya relasi baru sebagai satu kesatuan serta
terbentuknya hubungan antarkeluarga kedua pihak.
Relasi yang diharapkan dalam sebuah perkawinan tentu saja
relasi yang erat dan hangat. Tapi karena adanya perbedaan kebiasaan atau
persepsi antara suami-istri, selalu ada hal-hal yang dapat menimbulkan konflik.
Dalam kondisi perkawinan seperti ini, tentu sulit mendapatkan sebuah keluarga
yang harmonis.
Pada dasarnya, diperlukan penyesuaian diri dalam sebuah
perkawinan, yang mencakup perubahan diri sendiri dan perubahan lingkungan. Bila
hanya mengharap pihak pasangan yang berubah, berarti kita belum melakukan
penyesuaian.
Banyak yang bilang pertengkaran adalah bumbu dalam sebuah
hubungan. Bahkan bisa menguatkan ikatan cinta. Hanya, tak semua pasangan mampu
mengelola dengan baik sehingga kemarahan akan terakumulasi dan berpotensi
merusak hubungan
Perceraian
dan Pernikahan kembali
Jika
seorang suami menceraikan istrinya dengan cerai satu atau dua maka sang suami
berhak untuk melakukan rujuk dengan istri, selama masih masa iddah, baik istri ridha maupun tidak ridha. Namun,
jika talak tiga sudah jatuh maka suami tidak memiliki hak untuk rujuk kepada
istrinya, sampai sang istri dinikahi oleh lelaki lain. Allah berfirman,
فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ
زَوْجًا غَيْرَهُ
“Jika
dia mentalak istrinya (talak tiga) maka tidak halal baginya setelah itu, sampai
dia menikah dengan lelaki yang lain ….” (Q.S. Al-Baqarah:230)
Pernikahan wanita ini dengan lelaki kedua bisa menjadi syarat agar
bisa rujuk kepada suami pertama, dengan syarat:
Pertama: Dalam pernikahan yang dilakukan harus terjadi hubungan badan,
antara sang wanita dengan suami kedua. Berdasarkan hadis dari
Aisyah, bahwa ada seorang sahabat yang bernama Rifa’ah, yang menikah dengan
seorang wanita. Kemudian, dia menceraikan istrinya sampai ketiga kalinya.
Wanita ini, kemudian menikah dengan lelaki lain, namun lelaki itu impoten dan
kurang semangat dalam melakukan hubungan badan.
Dia pun melaporkan hal ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan harapan bisa
bercerai dan bisa kembali dengan Rifa’ah. Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kamu ingin agar bisa
kembali kepada Rifa’ah? Tidak boleh! Sampai kamu merasakan madunya dan dia
(suami kedua) merasakan madumu.” (H.R. Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, dan
At-Turmudzi)
Yang dimaksud “kamu
merasakan madunya dan dia merasakan madumu” adalah melakukan
hubungan badan.
Kedua: Pernikahan ini dilakukan secara alami, tanpa ada rekayasa dari
mantan suami maupun suami kedua. Jika ada rekayasa maka
pernikahan semacam ini disebut sebagai “nikah tahlil“; lelaki kedua yang menikahi sang wanita,
karena rekayasa, disebut “muhallil“;
suami pertama disebut “muhallal
lahu“. Hukum nikah tahlil adalah haram, dan pernikahannya dianggap
batal.
Ibnu Qudamah mengatakan, “Nikah muhallil adalah haram, batal, menurut pendapat
umumnya ulama. Di antaranya: Hasan Al-Bashri, Ibrahim An-Nakha’i, Qatadah, Imam
Malik, Sufyan Ats-Tsauri, Ibnu Mubarak, dan Imam Asy-Syafi’i.” (Al-Mughni, 7:574)
Bahkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam orang yang menjadi muhallil dan muhallal lahu. Dari Ali bin Abi Thalib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah melaknat muhallil dan
muhallal lahu.” (H.R. Abu Daud; dinilai sahih oleh Al-Albani)
Bahkan,
telah termasuk tindakan “merekayasa” ketika ada seorang lelaki yang menikahi
wanita yang dicerai dengan talak tiga, dengan niat untuk dicerai agar bisa
kembali kepada suami pertama, meskipun suami pertama tidak mengetahui.
Ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Umar, bahwa ada seseorang datang
kepada beliau dan bertanya tentang seseorang yang menikahi seorang wanita.
Kemudian, lelaki tersebut menceraikan istrinya sebanyak tiga kali. Lalu,
saudara lelaki tersebut menikahi sang wanita, tanpa diketahui suami pertama,
agar sang wanita bisa kembali kepada saudaranya yang menjadi suami pertama.
Apakah setelah dicerai maka wanita ini halal bagi suami pertama? Ibnu Umar
memberi jawaban, “Tidak halal. Kecuali nikah karena cinta (bukan karena niat tahlil). Dahulu, kami menganggap perbuatan semacam ini
sebagai perbuatan zina di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
(H.R. Hakim dan Al-Baihaqi; dinilai sahih oleh Al-Albani)
Allahu a’lam.
Aternatif selain Pernikahan
Nikah. Untuk satu kata ini,
banyak pandangan sekaligus komentar yang berkaitan dengannya. Bahkan
sehari-hari pun, sedikit atau banyak, tentu pembicaraan kita akan bersinggungan
dengan hal yang satu ini. Tak terlalu banyak beda, apakah di majelisnya para lelaki,
pun di majelisnya wanita. Sedikit diantara komentar yang bisa kita dengar dari
suara-suara di sekitar, diantaranya ada yang agak sinis, yang lain merasa
keberatan, menyepelekan, atau cuek-cuek saja.
Mereka yang menyepelekan nikah, bilang "Apa tidak ada alternatif yang lain
selain nikah ?", atau "Apa untungnya nikah?".
Bagi yang merasa berat pun berkomentar "Kalau sudah nikah, kita akan
terikat alias tidak bebas", semakna dengan itu "Nikah ! Jelasnya
bikin repot, apalagi kalau sudah punya anak".
Yang lumayan banyak 'penggemarnya' adalah yang mengatakan "Saya pingin
meniti karier terlebih dahulu, nikah bagi saya itu gampang kok".
Terakhir, para orang tua pun turut memberi nasihat untuk anak-anaknya
"Kamu nggak usah buru-buru menikah, cari duit dulu yang banyak".
Ironisnya bersamaan dengan banyak orang yang 'enggan' nikah, ternyata angka
perzinaan atau 'kecelakaan" semakin meninggi ! Itu beberapa pandangan
orang tentang pernikahan. Tentu saja tidak semua orang berpandangan seperti
itu. Sebagai seorang muslim tentu kita akan berupaya menimbang segalanya sesuai
dengan kaca mata islam. Apa yang dikatakan baik oleh syariat kita, pastinya
baik bagi kita. Sebaliknya, bila islam bilang sesuatu itu jelek pasti jelek
bagi kita. Karena pembuat syariat, yaitu Allah adalah yang menciptakan kita,
yang tentu saja lebih tahu mana yang baik dan mana yang buruk bagi kita.
Persoalan yang mungkin muncul di tengah masyarakat kita sehingga timbul
berbagai komentar seperti di atas, tak lepas dari kesalahpahaman atau ketidaktahuan
seseorang tentang tujuan nikah itu sendiri.
Nikah di dalam pandangan islam, memiliki kedudukan yang begitu agung. Ia bahkan
merupakan sunnah (ajaran) para nabi dan rasul, seperti firman Allah :
"dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum kamu dan Kami
memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan" (QS Ar-ra'd : 38)
Sedikit memberikan gambaran kepada kita, nikah di dalam ajaran islam memiliki
beberapa tujuan yang mulia, diantaranya :
· Nikah dimaksudkan untuk menjaga keturunan, mempertahankan kelangsungan
generasi manusia. Tak hanya untuk memperbanyak generasi saja, namun tujuan dari
adanya kelangsungan generasi tersebut adalah tetap tegaknya generasi yang akan
membela syariat Allah, meninggikan dienul islam , memakmurkan alam dan
memperbaiki bumi.
· Memelihara kehormatan diri, menghindarkan diri dari hal-hal yang diharamkan,
sekaligus menjaga kesucian diri.
· Mewujudkan maksud pernikahan yang lain, seperti menciptakann ketenangan,
ketenteraman. Kita bisa menyaksikan begitu harmoninya perpaduan antara kekuatan
laki-laki dan kelembutan seorang wanita yang diikat dengan tali pernikahan,
sungguh merupakan perpaduan yang begitu sempurna.
Pernikahan pun menjadi sebab kayanya seseorang, dan terangkatnya kemiskinannya.
Nikah juga mengangkat wanita dan pria dari cengkeraman fitnah kepada kehidupan
yang hakiki dan suci (terjaga). Diperoleh pula kesempurnaan pemenuhan kebutuhan
biologis dengan jalan yang disyariatkan oleh Allah. Sebuah pernikahan,
mewujudkan kesempurnaan kedua belah pihak dengan kekhususannya. Tumbuh dari
sebuah pernikahan adanya sebuah ikatan yang dibangun di atas perasaan cinta dan
kasih sayang.
"Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu
isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram
kepadanya, dan dijadikan Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya
yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang
berpikir" (QS Ar Ruum : 21)
Itulah beberapa tujuan mulia yang dikehendaki oleh Islam. Tentu saja tak keluar
dari tujuan utama kehidupan yaitu beribadah kepada Allah.
Resensi :
http://belajarpsikologi.com/memahami-makna-cinta/
http://id.wikipedia.org/wiki/Perkawinan
http://lokernez.blogspot.com/2013/02/tips-mencari-pasangan-hidup.html
http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/keluarga/psikologi/lima.tahap.dalam.perkawinan/001/007/140/1/1
http://www.konsultasisyariah.com/cara-rujuk-setelah-talak-tiga/#axzz2VIjIsDrF
http://achie-ibnu-yazid.id-fb.com/2012/06/ingin-tahu-ada-apa-dibalik-pernikahan.html