EMPOWERMENT STRES DAN KONFLIK
Pengertian Empowerment
Shardlow (1998), pemberdayaan pada intinya
membahas bagaimana individu, kelompok ataupun komunitas berusaha mengontrol
kehidupan mereka sendiri dan mengusahakan untuk membentuk masa depan sesuai
dengan keinginan mereka.
Empowerment adalah sebuah
konsep pembangunan ekonomi dan politik yang merangkum berbagai nilai sosial.
Konsep ini mencerminkan paradigma baru pembangunan yang bersifat “people
centered, participatory, empowering, and sustainable” (Chambers, 1988).
Menurut Chamber (Edi Suharto, 2005),
pemberdayaan sebagai paradigma baru pembangunan, yakni yang bersifat
“peoplecentered, participatory, empowering, and dasar (basic needs) atau
menyediakan mekanisme untuk mencegah proses pemiskinan lebih lanjut (safety
net), tetapi juga keberlanjutan pembangunan dalam masyarakat.
Pengertian stres
Menurut Robbins (2001:563) stress juga
dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang menekan keadaan psikis seseorang
dalam mencapai suatu kesempatan dimana untuk mencapai kesempatan tersebut
terdapat batasan atau penghalang.
Menurut lazarus (1976), stres adalah suatu
keadaan psikologis individu yang disebabkan karena individu dihadapkan pada
situasi internal dan eksternal.
Menurut Korchin (1976), keadaan stress
muncul apabila tuntutan-tuntutan yang luar biasa atau terlalu banyak mengancam
kesejahteraan atau integrasi seseorang.
Sumber stres pada manusia
Menurut Robins (1996 :224)
sumber stres yang potensial adalah sebagi berikut :
1. Faktor lingkungan, meliputi :
a. Ketidakpastian ekonomi
b. Ketidakpastian politik
c. Ketidakpastian teknologi
2. Faktor organisasi, meliputi :
a. Tuntutan tugas
b. Tuntutan peran
c. Tuntutan antar pribadi
d. Struktur organisasi
e. Kepemimpinan organisasi
f. Tahapan hidup organisasi
3.
Faktor individual, meliputi :
a. Masalah keluarga
b.Masalah ekonomi
c. Kepribadian
Menurut Grant Brecht
(2000), penyebab dari stress dibedakan menjadi dua macam:
• Penyebab makro, yaitu
menyangkut peristiwa besar dalam kehidupan,seperti kematian, perceraian,
pension, luka batin, dan kebangkrutan.
• Penyebab mikro, yaitu
menyangkut peristiwa kecil sehari-hari, seperti pertengkaran rumah tangga, beban pekerjaan, masalah apa yang akandimakan,
dan antri.
Pendekatan terhadap stres
pada manusia
Menurut Robbins, (2002: 311-312), ada dua
pendekatan dalam mengatasi stres, yaitu:
1. Pendekatan individu
Seorang karyawan dapat memikul tanggung
jawab pribadi untuk mengurangi tingkat stresnya. Strategi individu yang telah
terbukti efektif adalah:
a. Teknik manajemen waktu
b. Meningkatkan latihan fisik
c. Pelatihan pengenduran
(relaksasi)
d. Perluasan jaringan dukungan
sosial
2. Pendekatan Perusahaan
Beberapa faktor yang menyebabkan stress
terutama tuntutan tugas dan peran, struktur organisasi dikendalikan oleh
manajemen. Strategi yang digunakan:
a. Perbaikan seleksi personil dan
penempatan kerja
b. Penggunaan penetapan tujuan
yang realistis
c. Perancangan ulang pekerjaan
d. Peningkatan keterlibatan kerja
e. Perbaikan komunikasi organisasi
f. Penegakkan program
kesejahteraan korporasi
Definisi konflik
Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang
berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu
proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah
satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau
membuatnya tidak berdaya.Tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami
konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya
akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. Konflik
dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam
suatu interaksi.
perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik,
kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan
dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan
situasi yang wajar dalam setiap masyarakatdan
tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya
atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan
dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Konflik bertentangan dengan integrasi.
Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik
yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. sebaliknya, integrasi yang tidak
sempurna dapat menciptakan konflik.
Jenis-jenis konflik
Terdapat berbagai macam jenis konflik,
tergantung pada dasar yang digunakan untuk membuat klasifikasi. Ada yang
membagi konflik atas dasar fungsinya, ada pembagian atas dasar pihak-pihak yang
terlibat dalam konflik, dan sebagainya.
a. Konflik
Dilihat dari Fungsi
Berdasarkan fungsinya, Robbins (1996:430)
membagi konflik menjadi dua macam, yaitu:
a. konflik fungsional (Functional Conflict) dan
konflik disfungsional (Dysfunctional Conflict). Konflik fungsional
adalah konflik yang mendukung pencapaian tujuan kelompok, dan memperbaiki
kinerja kelompok.
b. konflik disfungsional adalah konflik yang
merintangi pencapaian tujuan kelompok.
Menurut Robbins, batas yang menentukan apakah suatu
konflik fungsional atau disfungsional sering tidak tegas (kabur). Suatu konflik
mungkin fungsional bagi suatu kelompok, tetapi tidak fungsional bagi kelompok
yang lain. Begitu pula, konflik dapat fungsional pada waktu tertentu, tetapi
tidak fungsional di waktu yang lain. Kriteria yang membedakan apakah suatu
konflik fungsional atau disfungsional adalah dampak konflik tersebut terhadap
kinerja kelompok, bukan pada kinerja individu. Jika konflik tersebut dapat
meningkatkan kinerja kelompok, walaupun kurang memuaskan bagi individu, maka
konflik tersebutdikatakan fungsional. Demikian sebaliknya, jika konflik
tersebut hanya memuaskan individu saja, tetapi menurunkan kinerja kelompok maka
konflik tersebut disfungsional.
8. Proses konflik
a. Penyebab konflik
b. Fase laten
c. Fase pemicu
d. Fase esklasi
e. Fase krisis
f. Fase resolusi konflik
g. Fase pasca konflik
B. KOMUNIKASI DALAM MANAJEMEN
1. Pengertian komunikasi
Secara etimologis
(asal-usul kata), komunikasi berakar kata Latin, ”comunicare”, artinya
“to make common” – membuat kesamaan
pengertian, kesamaan persepsi. Akar kata Latin lainnya “communis” atau “communicatus”
atau “common” dalam bahasa Inggris yang berarti “sama”, kesamaan makna (commonness).
Ada juga akar kata Latin ”communico” yang artinya membagi. Maksudnya
membagi gagasan, ide, atau pikiran. Sebagai konsep, William R. Rivers dkk. (2003)
membedakan antara communication (tunggal, tanpa “s”) dan communications (jamak,
dengan “s”). Communication adalah proses berkomunikasi. Sedangkancommunications adalah
perangkat teknis yang digunakan dalam proses komunikasi, e.g. genderang, asap,
butir batu, telegram, telepon, materi cetak, siaran, dan film. Penjelasan lain
dikemukakan Edward Sapir.
Menurutnya, communication adalah proses primer,
terdiri dari bahasa, gestur/nonverbal, peniruan perilaku, dan pola perilaku
sosial. Sedangkan communicationsadalah teknik-teknik sekunder,
instrumen, dan sistem yang mendukung proses komunikasi, seperti kode morse,
telegram, terompet, kertas, pulpen, alat cetak, film, serta pemancar siara radio/TV. Secara
terminologis (istilah), kita menemukan banyak definisi komunikasi. The
Oxford English Dictionary, misalnya, mengartikan komunikasi
sebagai “The imparting, conveying, or exchange of ideas, knowledge,
information, etc. “ (Pemberian, penyampaian, atau pertukaran ide,
pengetahuan, informasi, dsb.)
2. Proses komunikasi
Proses komunikasi adalah bagaimana
komunikator menyampaikan pesan kepada komunikannya, sehingga dapat menciptakan
suatu persamaan makna antara komunikan dengan komunikatornya. Proses komunikasi
ini bertujuan untuk menciptakan komunikasi yang efektif (sesuai dengan tujuan
komunikasi pada umumnya). Proses komunikasi termasuk juga suatu proses
penyampaian informasi dari satu pihak ke pihak lain dimana seseorang atau
beberapa orang, kelompok, organisasi dan masyarakat menciptakan dan menggunakan
informasi agar terhubung dengan lingkungan dan orang lain. Komunikasi berasal
dari bahasa latin communis yang berarti sama. Communico, communicatio atau
communicare yang berarti membuat sama. Secara sederhana komunikasi dapat
terjadi apabila ada kesamaan antara penyampaian pesan dan orang yang menerima
pesan.
Pada umumnya komunikasi dilakukan secara
lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila tidak
ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat
dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, dan menunjukkan sikap tertentu
seperti tersenyum, mengangkat bahu dan sebagainya. Komunikasi ini disebut
komunikasi nonverbal. Proses komunikasi bertujuan untuk menciptakan komunikasi
yang efektif (sesuai dengan tujuan komunikasi pada umumnya). Proses komunikasi
dapat terjadi apabila ada interaksi antar manusia dan ada penyampaian pesan
untuk mewujudkan motif komunikasi. Melalui komunikasi sikap dan perasaan
seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami oleh pihak lain.
3. Hambatan dalam komunikasi
Melakukan komunikasi yang efektif tidaklah mudah. Beberapa
ahli menyatakan bahwa tidak ada proses komunikasi yang sebenar-benarnya
efektif, karena selalu terdapat hambatan. Hambatan komunikasi pada umumnya
mempunyai dua sifat berikut ini :
a). Hambatan yang bersifat objektif, yaitu hambatan
terhadap proses komunikasi yang tidak disengaja dibuat oleh pihak lain tetapi
lebih disebabkan oleh keadaan yang tidak menguntungkan. Misalnya karena cuaca,
kebisingan kalau komunikasi di tempat ramai, waktu yang tidak tepat, penggunaan
media yang keliru, ataupun karena tidak kesamaan atau tidak “in tune” dari
frame of reference dan field of reference antara komunikator dengan komunikan.
b). Hambatan yang bersifat subjektif, yaitu hambatan yang
sengaja di buat orang lain sebagai upaya penentangan, misalnya pertentangan
kepentingan, prasangka, tamak, iri hati, apatisme, dan mencemoohkan komunikasi.
Sedangkan kalau diklasifikasikan hambatan komunikasi
meliputi :
1. Gangguan (Noises), terdiri dari
:
a. Gangguan mekanik
(mechanical/channel noise), yaitu gangguan disebabkan saluran komunikasi atau
kegaduhan yang bersifat fisik.
b. Gangguan semantik (semantic
noise), yaitu bersangkutan dengan pesan komunikasi yang pengertiannya menjadi
rusak. Lebih banyak kekacauan penggunaan bahasa, pengertian suatu istilah atau
konsep terdapat perbedaan antara komunikator dengan komunikan.
c. Gangguan personal (personnel
noise), yaitu bersangkutan dengan kondisi fisik komunikan atau komunikator yang
sedang kelelalahan, rasa lapar, atau sedang ngantuk. Juga kondisi psikologis,
misalnya tidak ada minat, bosan, dan sebagainya.
2. Kepentingan (Interest) Interest akan membuat seseorang
selektif dalam menanggapi atau menghayati suatu pesan. Orang akan memperhatikan
perangsang yang ada kaitannya dengan kepentingannya. Kepentingan bukan hanya
mempengaruhi perhatian kita tetapi juga menentukan daya tanggap, perasaan,
pikiran, dan tingkah laku yang akan merupakan sikap reaktif terhadap segala
perangsang yang tidak bersesuaian atau bertentangan dengan suatu kepentingan.
3. Motivasi Motif atau daya dorong dalam diri seseorang
untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginan,
kebutuhan dan kekurangannya. Pada umumnya motif seseorang berbeda-beda jenis
maupun intensitas dengan yang lainnya, termasuk intensitas tanggapan seseorang
terhadap suatu komunikasi. Semakin komunikasi sesuai motivasinya semakin besar
kemungkinan komunikasi itu dapat diterima dengan baik oleh pihak komunikan.
4. Prasangka (Prejudice) Sikap seseorang terhadap sesuatu
secara umum selalu terdapat dua alternatif like and dislike, atau pun simpati
dan tidak simpati. Dalam sikap negatif (dislike juga tidak simpati) termasuk
prasangka yang akan melahirkan curiga dan menentang komunikasi. Dalam prasangka
emosi memaksa seseorang untuk menarik kesimpulan atas dasar stereotif (tanpa
menggunakan pikiran rasional). Emosi sering membutakan pikiran dan pandangan
terhadap fakta yang nyata, tidak akan berpikir secara objektif dan segala yang
dilihat selalu akan dinilai negatif.
5. Evasi Komunikasi Evasion of
communication adalah gejala mencemoohkan dan mengelakkan suatu komunikasi untuk
kemudian mendiskreditkan atau menyesatkan pesan komunikasi. Menurut E. Cooper
dan M. Johada yang dikutip oleh Onong Uchjana Effendi dalam buku “Ilmu, Teori
Dan Filsafat Komunikasi” menyatakan beberapa jenis evasi :
a. Menyesatkan pengertian
(understanding derailed), contoh : Apabila seorang mahasiswa menyerukan pada
teman-temannya untuk meningkatkan prestasi belajar dengan jalan rajin masuk
kuliah, rajin membaca, dan menghormati dosen. Maka komunikasinya oleh mahasiswa
lain mungkin akan diangggap sebagai usaha mencari muka.
b. Mencacadkan pesan komunikasi
(message made invalid), contoh : Apabila seorang siswa A tidak disenangi oleh
siswa B, C, D, dan E. Ketika B melihat A sedang dinasehati guru BP, maka B
mengatakan pada C bahwa A sedang dimarahi Guru BP. C mungkin mengatakan pada D
bahwa A sedang dimaki-maki Guru BP. Dan D mengatakan pada E bahwa A diskor oleh
Guru BP.
c. Mengubah kerangka referensi
(changing frame of reference), menunjukkan seseorang yang menggapi komunikasi
dengan diukur oleh kerangka referensi sendiri, menurut seleranya sendiri tanpa
memperhatikan kerangka referensi orang yang akan diberikan pesan tersebut.
4. Komunikasi interpersonal
a. Componential
Definisi bedasarkan komponen menjelaskan
komunikasi antar pribadi dengan mengamati komponen-komponen utamanya, yaitu
penyampaian pesan oleh salah satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain
atau sekelompok kecil orang, dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk
memberikan umpan balik segera.
b. Situasional
Situasi yang menyenangkan akan menciptakan
komunikasi yang menyenangkan pula, dan akan menimbulkan persepsi yang baik
pula. Karena pada dasarnya sikap emosi akan mudah terpancing saat berada pada
situasi yang salah, sehingga akan membentuk persepsi dimana ego akan lebih
mendominasi. faktor situasional akan berpengaruh besar terhadap proses
terbentuknya persepsi. Dalam situasi yang menyenangkan akan menimbulkan
persepsi yang menyenangkan, begitu pula sebaliknya, jika berada pada situasi
yang salah maka akan terbentuk persepsi yang salah pula, serta akan menjadi penghambat
dalam proses komunikasi yang terjadi.
5. Model pengolahan informasi komunikasi
Model Pengolahan Informasi
pada dasarnya menitikberatkan dorongan-dorongan internal (datang dari dalam
diri) manusia untuk memahami dunia dengan cara menggali dan mengorganisasikan
data, merasakan adanya masalah dan mengupayakan jalan pemecahannya, serta
mengembangkan bahasa untuk mengungkapkannya
Model
pengolahan informasi dibawah ini ada 4 yaitu:
a. Rational
Proses
informasi adalah proses menerima, menyimpan dan mengungkap kembali informasi.
Dalam proses pembelajaran, proses menerima informasi terjadi pada saat siswa
menerima pelajaran. Proses menyimpan informasi terjadi pada saat siswa harus
menghafal, memahami, dan mencerna pelajaran. Sedangkan proses mengungkap kembali
informasi terjadi pada saat siswa menempuh ujian atau pada saat siswa harus
menerapkan pengetahuan yang telah dimilikinya untuk memecahkan masalah yang
dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu perlu dikemukakan bahwa informasi masuk ke dalam kesadaran manusia melalui pancaindera, yaitu indera pendengaran, penglihaan, penciuman, perabaan, dan pengecapan. Informasi masuk ke kesadaran manusia paling banyak melalui indera pendengaran dan penglihatan. Berdasarkan alas an tersebut , maka media yang banyak digunakan adalah media audio, media visual, dan media audiovisual (gabungan media audio dan visual). Belakangan berkembang konsep multimedia, yaitu penggunaan secara serentak lebih daripada satu media dalam proses komunikasi, informasi dan pembelajaran. Konsep multimedia diasarkan atas pertimbangan bahwa penggunaan lebih dari pada satu media yang menyentuh banyak indera akan membuat proses komunikasi termasuk proses pembelajaran lebih efektif.
Dalam proses komunikasi atau proses informasi (dan juga proses pembelajaran) sering dijumpai masalah atau kesulitan. Beberapa masalah dalam proses komunikasi, misalnya:
Ditinjau dari pihak siswa: Kesulitan bahasa, sukar menghafal, terjadi distorsi atau ketidakjelasan, gangguan pancaindera, sulit mengungkap kembali, sulit menerima pelajaran, tidak tertarik terhadap materi yang dipelajari, dsb. Di tinjau dari pendidik, misalnya pendidik tidak mahir mengemas dan menyajikan materi pelajaran, faktor kelelahan, ketidak ajegan, dsb. Ditinjau dari pesan atau materi yang disampaiakan, misalnya: materi berada jauh dari tempat siswa, materi terlau kecil, abstrak, terlalu besar, berbahaya kalau disentuh, dsb.
3. Rasional penggunaan media menurut teori kerucut pengalaman (cone experience)
Idealnya dalam proses pembelajaran, pendidik memberikan pengalaman nyata dan langsung kepada siswa. Semakin nyata, kongkrit dan langsung, semakin mudah pula siswa dapat menangkap materi pelajaran. Namun karena keadaan, tidak selamanya pendidik dapat memberikan pengalaman secara langsung dan nyata. Karena itu sesuai dengan teori kerucut pengalaman karya Edgar Dale, dalam mengajar jika pengalaman langsung tidak mungkin dilaksanakan, maka digunakan tiruan pengalaman, pengalaman yang didramatisaikan, demonstrasi, karya wisata, pameran, televisi pendidikan, gambar hidup, gambar mati, radio dan rekaman, lambang visual, dan lambang verbal.
Selain itu perlu dikemukakan bahwa informasi masuk ke dalam kesadaran manusia melalui pancaindera, yaitu indera pendengaran, penglihaan, penciuman, perabaan, dan pengecapan. Informasi masuk ke kesadaran manusia paling banyak melalui indera pendengaran dan penglihatan. Berdasarkan alas an tersebut , maka media yang banyak digunakan adalah media audio, media visual, dan media audiovisual (gabungan media audio dan visual). Belakangan berkembang konsep multimedia, yaitu penggunaan secara serentak lebih daripada satu media dalam proses komunikasi, informasi dan pembelajaran. Konsep multimedia diasarkan atas pertimbangan bahwa penggunaan lebih dari pada satu media yang menyentuh banyak indera akan membuat proses komunikasi termasuk proses pembelajaran lebih efektif.
Dalam proses komunikasi atau proses informasi (dan juga proses pembelajaran) sering dijumpai masalah atau kesulitan. Beberapa masalah dalam proses komunikasi, misalnya:
Ditinjau dari pihak siswa: Kesulitan bahasa, sukar menghafal, terjadi distorsi atau ketidakjelasan, gangguan pancaindera, sulit mengungkap kembali, sulit menerima pelajaran, tidak tertarik terhadap materi yang dipelajari, dsb. Di tinjau dari pendidik, misalnya pendidik tidak mahir mengemas dan menyajikan materi pelajaran, faktor kelelahan, ketidak ajegan, dsb. Ditinjau dari pesan atau materi yang disampaiakan, misalnya: materi berada jauh dari tempat siswa, materi terlau kecil, abstrak, terlalu besar, berbahaya kalau disentuh, dsb.
3. Rasional penggunaan media menurut teori kerucut pengalaman (cone experience)
Idealnya dalam proses pembelajaran, pendidik memberikan pengalaman nyata dan langsung kepada siswa. Semakin nyata, kongkrit dan langsung, semakin mudah pula siswa dapat menangkap materi pelajaran. Namun karena keadaan, tidak selamanya pendidik dapat memberikan pengalaman secara langsung dan nyata. Karena itu sesuai dengan teori kerucut pengalaman karya Edgar Dale, dalam mengajar jika pengalaman langsung tidak mungkin dilaksanakan, maka digunakan tiruan pengalaman, pengalaman yang didramatisaikan, demonstrasi, karya wisata, pameran, televisi pendidikan, gambar hidup, gambar mati, radio dan rekaman, lambang visual, dan lambang verbal.
b.
Limited capacity
c.
expert
d.
cybernetic
6. Model
interaktif manajemen dalam komunikasi
1. Confidence
Dalam manajemen timbulnya suatu interaksi karena adanya
rasa nyaman. Kenyamanan tersebut dapat membuat suatu organisasi bertahan lama
dan menimbulkan suatu kepercayaan dan pengertian.
2. Immediacy
Ini adalah model organisasi yang membuat suatu organisasi
tersebut menjadi segar dan tidak membosankan
3. Interaction
management
Adanya berbagai interaksi dalam manajemen seperti
mendengarkan dan juga menjelaskan kepada berbagai pihak yang bersangkutan
4. Expressiveness
Mengembangkan suatu komitmen dalam suatu organisasi dengan
berbagai macam ekspresi perilaku.
5. Other-orientation
Dalam hal ini suatu manajemen
organisasi berorientasi pada pegawai.
Daftar Pustaka
:
www.elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/…/bab7-stres_lingkungan.pdf, diakses
pada tanggal 12 april 2011, 19.00
Suharto, Edi, (2005). Membangun Masyarakat
Memberdayakan Masyarakat: Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan
Pekerjaan Sosial, Bandung: Refika Aditama
Shardlow, Steven. (1998). Values, Ethics
and Social Work. Di dalam : Robert Adams, Lena Dominelle, Malcolm Payne,
editor. Social Work : Themes, Issues and Critical Debates.London
: Mac Millan Press Ltd.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar